Sejarah dan Fakta Tentang Bunga Edelweis

Fakta Nyata – Bunga edelweis merupakan bunga yang lazim ditemukan di beberapa gunung di Indonesia ketika melakukan pendakian. Nama latin dari bunga edelweis adalah Anaphalis javanica dan banyak tumbuh di pegunungan di Indonesia. Bunga ini terkenal memiliki penampilan yang begitu cantik, sehingga banyak pendaki yang ingin memetik dan membawa pulang bunga satu ini.

Akan tetapi, perlu tahu bahwa memetik bunga ini merupakan aktivitas yang dilarang ketika melakukan pendakian. Bagi pendaki yang melanggar peraturan ini, maka akan ada sanksi yang perlu ditanggung. Berikut mitos dan fakta seputar bunga edelweiss yang mendapat julukan sebagai bunga abadi? Semua pertanyaan itu, bisa kamu temukan pada artikel ini. Jadi, simak penjelasan bunga edelweis berikut ini ya!

Kenapa Bunga Edelweis Dilarang Dipetik?

Di Indonesia, bunga ini bisa ditemukan di Gunung Semeru, di Desa Wonokitri, Pasuruan Jawa Timur. Taman bunga ini berada di ketinggian 1.900 meter dan masih satu jalur dengan Gunung Bromo.

Selain Semeru dan Bromo, bunga edelweis juga bisa ditemukan di Gunung Lawu, Gunung Gede, Gunung Kawi, Gunung Rinjani, Gunung Pangrango, Gunung Papandayan dan dataran tinggi di Dieng.

Bunga ini biasanya tumbuh subur di daerah tandus dan tanah vulkanik pegunungan. Bunga edelweis akan mekar usai musim hujan yaitu sekitar bulan April hingga September. Akan tetapi, ada larangan memetik bunga edelweis di pegunungan dan bahkan pelanggar akan dikenai sanksi jika ketahuan memetik bunga edelweis. Namun, kenapa bunga ini dilarang dipetik?

Ada berbagai alasan kenapa bunga ini dilarang dipetik, salah satunya adalah karena Undang-Undang Pasal 33 Ayat 1 yang melarang bunga edelweis dipetik. Di mana, UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem menyatakan bahwa jika pemetik serta pencabut bunga ini akan dikenakan sanksi paling besar Rp 100 juta rupiah.

Menurut undang-undang tersebut pula, segala sesuatu, baik itu tumbuhan maupun hewan yang berada di kawasan konservasi dilindungi, sehingga dilarang dipetik atau diburu.

Pelarangan memetik bunga edelweis juga tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No. P.20/ Menlhk/ Setjen/ Kum.1/ 6/ 2018 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Dalam peraturan menteri tersebut, dijelaskan pula bahwa bunga edelweis merupakan bunga yang dilindungi. Orang yang memetik bunga edelweis berarti menjadi pelanggar UU No. 41 Tahun 1999 dengan ancaman penjara paling lama selama satu tahun dengan denda maksimal Rp 50 juta.

Selain karena undang-undang, larangan memetik bunga edelweis juga dikarenakan populasi dari bunga edelweis yang terancam punah. Para pendaki dilarang memetik bunga edelweis liar yang berada di sekitar pegunungan. Meskipun dilarang memetik, tetapi kamu masih bisa berkunjung ke taman nasional dan ikut melihat serta membudidayakan bunga edelweis.

Fakta Menarik Bunga Edelweis

    • Bagian dari kebutuhan adat

Suku Tengger, melestarikan bunga ini di Gunung Bromo. Dataran tinggi di Bromo dibangun bibit serta penanaman bunga di rumah masing-masing penduduk melalui sebuah program swadaya. Edelweis digunakan sebagai ritual adat dari suku Tengger secara turun temurun.

Masyarakat suku Tengger menyebut bunga ini sebagai “tana layu”. Kata “tana” berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya adalah tidak, sedangkan layu artinya adalah layu. Dari penamaan inilah, akhirnya bunga ini disebut sebagai bunga abadi.

Menurut masyarakat dari suku Tengger, edelweis merupakan simbol keabadian dan memiliki nilai yang baik bagi masyarakat. Suku Tengger mengadakan suatu upacara keagamaan, seperti upacara Leliwet, upacara Karo, Kasada dan Entas-entas bagi agama Hindu. Dalam upacara tersebut, edelweiss kemudian dimanfaatkan sebagai bunga untuk sesajen dalam ritual keagamaan.

    • Dapat Mekar Hingga 10 Tahun Lamanya

Bunga edelweis terkenal akan waktu mekar yang lama dan bertahan hingga 10 tahun lamanya.

Waktu mekar bunga edelweis yang lama ini menjadi ciri khas tersendiri yang menjadikannya mempunyai julukan bunga abadi.

    • Hampir Punah

Keberadaan bunga edelweis hampir punah di Indonesia. Bunga langka ini masuk ke dalam daftar tumbuhan yang dilindungi oleh Badan Konservasi di Indonesia.

Di kawasan Dieng pada tahun 2004, masyarakat yakin bahwa kawasan bunga edelweis telah hancur karena dijarah habis-habisan sehingga mengakibatkan bunga ini nyaris punah.

Terdapat juga kejadian memilukan tahun 2023 yang terjadi di Ranca Upas, Ciwidey, Jawa Barat. Habitat edelweis hancur akibat ulah komunitas motor trail.

    • Salah satu obat tradisional

Edelweiss Jawa dikenal memiliki khasiat sebagai obat penyembuh. Ekstrak dari bunga ini mengandung antioksidan tinggi yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Menurut sebuah penelitian, ekstrak bunga ini memiliki kandungan antimikroba yang mampu membasmi jamur, bakteri serta memiliki kandungan anti peradangan. Ekstra bunga edelweiss juga dikenal mampu menyembuhkan batuk, pencegahan kanker payudara, difteri serta TBC.

    • Pernah muncul sebagai perangko nasional

Pada tahun 2003, Kantor Pos Indonesia mencetak desain perangko dengan gambar bunga ini. Perangko tersebut memiliki ukuran kecil dengan nominal Rp 3.000. Desain perangko bunga ini digunakan sebagai bentuk penghormatan pada bunga ini yang terancam punah.

Sejarah Bunga Edelweiss

Edelweis dikenal memiliki keindahan warna yang menarik mata banyak orang. Warna putih dari kelopak edelweis juga menginspirasi banyak orang untuk menjadikan ciri khas penampilan bunga edelweiss sebagai tren hiasan bunga.

Menurut mitos, bunga edelweis menggambarkan tentang kisah cinta seseorang. Konon, edelweiss menjadi simbol cinta sejati, karena mekar dan tidak layu dalam waktu yang lama. Mitos tentang bunga edelweis ini berkembang ketika seseorang memberikan bunga ini pada kekasihnya, maka hubungan dari pasangan kekasih tersebut pun akan abadi.

Menurut sejarahnya, Edelweis Jawa pertama kali ditemukan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat. Mengutip dari laman indonesia.go.id, ilmuwan asal Jerman bernama Caspar George Karl Reinwardt adalah tokoh yang pertama kali menemukan bunga edelweis. Reinwardt pertama kali menemukan bunga ini ketika ia berada di lereng bukit.

Pada tahun 1819, Edelweis jawa kemudian diteliti lebih lanjut oleh Carl Heinrich Schultz. Penelitian tersebut dilakukan di sekitar gunung Semeru serta Merbabu.