Kronologi dan Fakta Insiden KAI Argo Bromo Anggrek
Fakta Nyata – Tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam. Mengungkap sejumlah fakta krusial, mulai dari kronologi kejadian hingga sorotan terhadap sistem keselamatan perkeretaapian. Insiden yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mengganggu operasional perjalanan kereta api secara luas.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyampaikan bahwa hingga Selasa pukul 08.45 WIB, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 14 orang. Selain itu, sebanyak 84 korban lainnya mengalami luka dan telah mendapatkan penanganan medis di berbagai fasilitas kesehatan di Bekasi dan sekitarnya.
Kronologi dan Fakta Lapangan Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Insiden kecelakaan kereta ini terjadi sekitar pukul 20.52 WIB di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920. Berdasarkan informasi KAI, peristiwa bermula ketika ada insiden taksi listrik tertemper di perlintasan kereta dekat Bulak Kapal.
Dalam laporan akun TMC Polda Metro dilaporkan kecelakaan tersebut terjadi pukul 20.50 WIB. Taksi itu berhenti di tengah-tengah lintasan kereta. KRL pun berhenti di samping taksi tersebut.
Akibat kejadian itu, ada KRL lain yang terhenti di Stasiun Bekasi Timur. Namun, dalam waktu yang hampir bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek yang melintas dari arah Gambir menuju Surabaya Pasar Turi menabrak rangkaian KRL tersebut.
Benturan keras menyebabkan kerusakan parah pada gerbong, tertutama gebong khusus wanita, sehingga menyulitkan proses evakuasi. Tim SAR gabungan harus menggunakan peralatan ekstrikasi untuk mengeluarkan korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menjelaskan bahwa proses evakuasi berlangsung intensif sejak dini hari dengan perkembangan signifikan.
“Memasuki hari kedua, kami terus mengoptimalkan seluruh personel Basarnas bersama unsur SAR gabungan yang ada. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati menggunakan peralatan ekstrikasi mengingat kondisi rangkaian kereta yang mengalami kerusakan cukup parah. Prioritas kami adalah menemukan dan mengevakuasi seluruh korban secepat mungkin,” kata Desiana.
Sejumlah korban berhasil dievakuasi dalam rentang waktu dini hari hingga pagi. Pada pukul 07.30 WIB tercatat total 92 korban, dengan rincian 85 selamat dan 7 meninggal dunia sebelum angka tersebut kemudian diperbarui menjadi 14 korban meninggal.
Gerbong Wanita Hancur
Gerbong belakang KRL itu merupakan gerbong wanita, sampai hancur. Seorang warga bernama Andi menjadi salah satu korban selamat dalam tabrakan itu. Andi mengatakan KRL yang tertabrak itu merupakan gerbong wanita di posisi paling belakang.
“Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang,” ujar Andi (42), di Stasiun Bekasi Timur, dikutip Antara, Senin (27/4).
Audit standar keselamatan
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengaudit ulang standar keselamatan operasional taksi listrik Green SM buntut peristiwa itu.
Audit dilakukan setelah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memanggil manajemen Green SM untuk dimintai klarifikasi pada Selasa (28/4), sehari setelah insiden yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan penumpang tersebut.
“Kami telah membentuk tim khusus ini untuk mendalami keterlibatan taksi Xanh SM termasuk sisi perizinannya, kelengkapan administrasi, pemenuhan standar keselamatan, hingga kepatuhan pada ketentuan operasional angkutan umum,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan dalam keterangan resmi di Kantor Pusat Kemenhub, Jakarta, Selasa (28/4).
Dampak Operasional dan Gangguan Perjalanan Kereta
Dampak kecelakaan kereta ini meluas ke operasional perjalanan kereta api. Stasiun Bekasi Timur untuk sementara tidak melayani naik dan turun penumpang. Perjalanan KRL dibatasi hanya sampai Stasiun Bekasi, sementara jalur hilir mulai dibuka secara terbatas untuk operasional.
KAI juga membatalkan sejumlah perjalanan kereta dari dan menuju Stasiun Gambir dan Pasar Senen, termasuk KA Purwojaya, Parahyangan, Argo Muria, hingga Argo Bromo Anggrek. Bagi penumpang yang terdampak, KAI memberikan pengembalian biaya tiket sebesar 100 persen di luar biaya pemesanan.
Sopir taksi diperiksa
Polisi mengungkap nasib sopir taksi listrik online Green SM yang sempat tertabrak kereta hingga terjadi kecelakaan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
Kepala Seksi Kumpul, Olah, dan Kaji Data Kecelakaan Lalu Lintas Korlantas Polri Kompol Sandhi Wiedyanoe menyebut supir taksi tersebut telah diamankan dan diperiksa secara intensif di Polres Metro Bekasi Kota.
“Pengemudi sudah diamankan di Polres Metro Bekasi Kota untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut oleh Kasat Lantas,” kata Sandhi.
Sandhi menjelaskan insiden itu bermula akibat adanya korsleting listrik di kendaraan taksi online elektronik di perlintasan sebidang tanpa palang pintu. Ia menjelaskan mobil listrik yang korslet itu kemudian tertabrak oleh KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta. Akibat insiden itu, kata dia, menyebabkan terganggunya proses perjalanan kereta lainnya.
“Kecelakaan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan mobil listrik sebenarnya hanya rugi material. Namun akibatnya, perjalanan kereta api lainnya terganggu, KRL yang menunggu proses evakuasi,” katanya
Sandhi mengatakan informasi tabrakan kereta itu diduga belum sempat disampaikan secara menyeluruh kepada Kereta Api Argo Bromo Anggrek. Padahal, kata dia, Kereta Api Argo Bromo Anggrek sedang berjalan dengan kecepatan tinggi yakni 110 kilometer per jam.
“Akibat kurangnya informasi dan koordinasi tersebut, terjadilah tabrakan di stasiun Bekasi Timur lebih tepatnya yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia,” katanya.
