Fakta Kejadian Bunuh Diri di Jembatan Cangar
Fakta Nyata – Dalam waktu kurang dari satu bulan, Jembatan Cangar di Kota Batu kembali menjadi sorotan setelah dua kasus bunuh diri dengan pola yang hampir serupa terjadi di lokasi yang sama. Kesamaan pola kejadian hingga barang bukti yang ditemukan memperkuat dugaan adanya pola berulang. Fenomena ini tak hanya menimbulkan keprihatinan, tetapi juga mendorong langkah pencegahan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Situasi tersebut mendorong aparat dan pemerintah daerah untuk tidak hanya mengungkap fakta, tetapi juga merancang langkah pencegahan di lokasi yang sama. Berikut sederet fakta yang terungkap dari dua tragedi tersebut.
Fakta Tragedi Bunuh Diri di Jembatan Cangar
1. Aktivitas korban sebelum kejadian
Sebelum insiden, korban kedua sempat terlihat seorang diri di atas jembatan. Ia tampak melamun di dekat sepeda motornya dan sempat berdiri di sisi pembatas.
Pola ini disebut mirip dengan korban pertama yang juga terlihat menyendiri di lokasi yang sama sebelum kejadian.
2. Dua kasus bunuh diri terjadi dalam waktu berdekatan
Kasus pertama menimpa MMA (24) warga Mojokerto pada akhir Maret 2026. Selang beberapa minggu, DPW (24) warga Lumajang ditemukan meninggal di dasar jurang bawah Jembatan Cangar 1 pada Kamis (23/4/2026). Kedua kejadian ini terjadi di lokasi yang sama dengan pola yang hampir identik.
3. Barang bukti di lokasi menunjukkan pola yang sama
Pada kedua kasus, ditemukan sepeda motor terparkir di tepi jembatan serta sandal di bibir jembatan. Kasat Reskrim Polres Batu AKP Joko Suprianto menjelaskan, laporan awal berasal dari warga yang curiga melihat kondisi tersebut.
“Kami awalnya mendapatkan laporan dari warga. Warga itu mendapati ada sepeda motor yang terparkir di pinggir jembatan, kemudian adanya sepasang sandal yang ada di bibir jembatan,” terang Joko.
Warga kemudian memeriksa ke dasar jurang dan menemukan korban. Polisi juga menemukan barang bukti lain.
“Barang bukti yang kami temukan berupa satu unit sepeda motor merk Vixion yang diduga milik korban, satu dompet warna hitam di saku korban dan kami juga menemukan sepasang sandal warna hitam putih di bibir jembatan,” terangnya.
4. Kesaksian warga dan petugas
Petugas di kawasan Tahura Raden Soerjo mengaku sempat melihat korban kedua duduk santai di atas motor sambil merokok sebelum kejadian.
Saat itu, tidak ada tanda mencurigakan karena korban tampak seperti pengendara yang tengah beristirahat.
5. ‘Mawar Hitam’ Jembatan Cangar
Istilah “mawar hitam” mulai disematkan oleh warganet untuk menggambarkan sisi kelam yang kini melekat pada Jembatan Cangar. Ungkapan ini muncul sebagai simbol duka sekaligus peringatan atas berulangnya tragedi di lokasi tersebut.
Meski bukan istilah resmi, narasi “mawar hitam” mencerminkan perubahan persepsi publik terhadap jembatan yang sebelumnya dikenal sebagai jalur wisata. Kini, muncul dorongan agar stigma tersebut tidak semakin menguat dengan langkah nyata pencegahan.
6. Pemerintah siapkan langkah pencegahan di Jembatan Cangar
Menanggapi kejadian berulang ini, Plt Wali Kota Batu Heli Suyanto menyatakan pihaknya akan mengambil langkah antisipasi. Salah satunya dengan mengusulkan pemasangan pengaman di jembatan.
“Kami akan segera mengirimkan surat resmi dan duduk bersama Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur. Tujuannya untuk mengusulkan pemasangan pagar pengaman atau jaringan pengaman lain di titik-titik rawan yang sering disalahgunakan,” ungkapnya.
Selain itu, pemerintah juga berencana meningkatkan penerangan dan memasang CCTV yang terintegrasi dengan Command Center untuk mencegah kejadian serupa terulang.
