Intip Fakta Ikan Sapu-sapu, Mampu Bertahan Hidup Lama

Fakta Nyata – Ikan sapu-sapu sangat mudah dikenali dari warnanya yang didominasi hitam, dengan sedikit tambahan garis-garis putih. Walaupun punya warna fisik yang menyeramkan, sapu-sapu masih populer untuk dijadikan sebagai ikan hias.

Secara ilmiah, ikan sapu-sapu dikenal sebagai Pterygoplichthys, salah satu spesies ikan invasif yang dinilai berbahaya. Kehadirannya dapat mendominasi perairan, merusak habitat alami, hingga mengancam kelangsungan ikan lokal.

Meski sering dianggap sebagai “ikan pembersih”, ternyata ikan ini menyimpan sejumlah fakta menarik yang belum banyak diketahui. Berikut ulasannya:

Morfologi

Ikan sapu-sapu bukanlah hewan asli Indonesia. Ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan, tepatnya di Argentina dan Paraguay. Hewan ini biasa hidup di perairan tawar seperti sungai, danau, atau rawa-rawa. Hewan ini punya nama latin Plescostomus, tapi di berbagai negara banyak menyebutnya sebagai suckermouth fish.

Di Indonesia sendiri, spesies ikan sapu-sapu yang banyak ditemui adalah Pterygoplichthys disjunctivus. Ikan ini punya panjang sekitar 40–50 cm, dengan ciri khas warna sisik yang hitam dan abu-abu. Kepala ikan sapu menyerupai ikan lele dengan ekor yang agak panjang. Di bawah kepala ikan terdapat mulut penghisap yang biasa digunakan untuk menghisap alga.

Bukan spesies asli Indonesia

Ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Serikat dan termasuk dalam jenis ikan air tawar yang umumnya hidup di perairan sungai maupun danau.

Ikan sapu-sapu dikenal dengan nama plecostomus yang kemudian disingkat menjadi nama plecos atau plecs yang memiliki makna mulut terlipat. Apabila diperhatikan, ikan sapu-sapu memang memiliki bentuk mulut yang cukup unik, sebab mulutnya seperti terlipat ke bawah.

Di Malaysia, ikan sapu-sapu sering disebut dengan nama ikan bandaraya dikarenakan fungsi dari ikan ini adalah sebagai ikan pembersih. Ikan sapu-sapu memiliki ukuran yang cukup besar, terutama untuk ukuran hias dan sejenisnya.

Mudah beradaptasi pada perubahan iklim

Ikan sapu-sapu dapat tinggal di air tawar dalam kondisi yang ekstrem, baik itu dalam suhu air terlalu dingin atau di sungai-sungai yang mengering. Ikan sapu-sapu juga dapat hidup dengan baik di perairan kotor dan berlumpur, bahkan dengan kadar oksigen yang rendah. Selain itu, ikan sapu-sapu punya usia yang cukup panjang sekitar 10–15 tahun, dan dapat bertambah lama jika tumbuh di alam lepas.

Selain melalui insang, ikan sapu-sapu juga bernapas melalui kulitnya. Bahkan ikan ini mampu bertahan sampai 30 jam tanpa air, karena ikan sapu-sapu menyimpan oksigen di dalam perutnya. Dalam kondisi yang ekstrem, ikan sapu-sapu tetap bisa bertelur hingga 300 butir telur di alam liar. Kemampuan adaptasi dalam segala cuaca inilah yang membuat ikan sapu-sapu dapat bertahan hidup dalam perubahan iklim.

Hewan omnivora

Ikan sapu-sapu dikenal dengan omnivora oportunistik. Mulut hewan ini dilengkapi dengan gigi runcing, sehingga dapat mengoyak mangsanya lebih mudah. Di sungai, ikan sapu memakan ikan-ikan yang lebih kecil.

Selain itu, ikan ini juga dapat memakan ganggang atau alga. Sehingga, seringkali ikan sapu-sapu disebut the janitor fish atau ikan pembersih. Saat ditempatkan di akuarium, ikan sapu-sapu dapat membersihkan kotoran dan lumut yang menempel di dinding kaca.

Moncong ikan sapu-sapu dilengkapi dengan mulut yang berbentuk seperti cangkir yang dapat mengisap kotoran-kotoran kecil. Inilah mengapa ikan sapu-sapu dapat memakan berbagai jenis alga atau lumut.