Fakta Perjalanan Bisnis ”Menantea” Milik Jerome Polin, Hingga Akhirnya Tutup

Fakta Nyata – Kabar mengejutkan datang dari dunia bisnis kuliner. Jerome Polin resmi mengumumkan penutupan bisnis minuman miliknya, Menantea, setelah berjalan selama lima tahun.

Setelah sempat meledak dan menjamur di seluruh sudut kota, Menantea resmi mengumumkan akan tutup permanen pada 25 April 2026. Penutupan ini menjadi akhir dari drama panjang internal perusahaan yang diwarnai isu kerugian mitra hingga dugaan penyelewengan dana miliaran rupiah.

Dalam unggahan tersebut, manajemen menyampaikan pesan perpisahan kepada pelanggan.

“Berat rasanya mengatakan ini. Namun, seperti yang sudah diinfokan oleh Mintea2, seluruh cabang Menantea akan resmi tutup operasional per tanggal 25 April 2026,” tulis manajemen.

Ini fakta-fakta yang terjadi dari perjalanan bisnis Menantea :

1. Ekspansi Cepat, Fondasi Rapuh

Menantea sempat menjadi fenomena dengan membuka lebih dari 200 outlet dalam waktu singkat. Namun, pertumbuhan kilat ini ibarat pedang bermata dua. Jehian mengakui bahwa manajemen “alpa” dalam membangun sistem operasional yang kuat, termasuk kurangnya riset mendalam saat memilih mitra bisnis serta absennya audit keuangan rutin.

2. Jerome Bongkar Dugaan Pengkhianatan Partner

Jerome mengungkap bahwa sejak awal ia menggandeng seorang partner yang dianggap senior di dunia F&B. Pembagian tugas dibuat jelas: Jerome fokus pada promosi dan konten, sementara operasional serta keuangan dipegang pihak partner. Masalahnya, kepercayaan itu diduga justru jadi celah.

Menurut penjelasan yang dibenarkan Jerome, laporan keuangan rutin diberikan dalam bentuk file Excel dan selalu menunjukkan kondisi bisnis yang sehat. Akibatnya, tak ada kecurigaan berarti selama kerja sama berlangsung.

3. Nasib Tragis Para Mitra Franchise

Dampak paling nyata dirasakan oleh para mitra franchise. Dengan modal awal yang tidak sedikit—mencapai Rp175 juta (termasuk mesin dan perlengkapan)—banyak mitra yang justru gigit jari. Kekecewaan meluap ke media sosial setelah beberapa gerai melaporkan penjualan yang sangat miris, bahkan ada yang hanya mampu menjual kurang dari 10 cup per hari.

4. Uang Pribadi Ikut Terkuras

Tak berhenti di sana, Jerome dan sang kakak, Jehian Polin, juga disebut harus mengeluarkan dana pribadi hingga miliaran rupiah demi menutup biaya operasional, gaji karyawan, bahan baku, hingga ganti rugi.

“Pelajaran yang sangat penuh air mata, mahal dan berharga.”

Kalimat itu merangkum betapa berat harga yang harus dibayar dari sebuah kepercayaan yang salah tempat.

5. Upaya Penyelamatan yang Terlambat

Jehian mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir, pihak pendiri telah berupaya keras memulihkan kondisi perusahaan menggunakan dana pribadi. Mereka melakukan audit investigatif bersama akuntan publik dan menyelesaikan kewajiban kepada karyawan serta pemasok. Namun, luka yang sudah terlanjur dalam di mata mitra dan pelanggan sulit untuk disembuhkan.

6. Penghormatan Terakhir: Clearance Sale

Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan dukungan terakhir bagi mitra yang masih bertahan, Menantea akan menggelar program clearance sale di sisa waktu operasionalnya hingga 25 April mendatang. Langkah ini diambil untuk menutup lembaran sejarah Menantea secara permanen dan mencegah ketidakpastian yang lebih lama.

7. Tak Tempuh Jalur Hukum, Pilih Move On

Yang paling mengejutkan, Jerome memilih tidak membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia juga tidak membuka identitas pihak yang diduga terlibat.

Alih-alih memperpanjang konflik, ia memilih menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran besar dalam perjalanan bisnisnya.

Tutupnya Menantea bukan hanya soal sebuah brand berhenti beroperasi. Ini juga jadi pengingat keras bahwa bisnis besar bisa runtuh bukan karena sepi pembeli, melainkan karena pengelolaan yang bermasalah. Dari luar terlihat manis. Di dalam, bisa jadi sudah retak sejak lama.