Fakta dan Strategi McDonald’s Anjloknya Penjualan Global

Fakta Nyata – Raksasa makanan cepat saji McDonald’s mengalami penurunan penjualan terparah di Amerika Serikat sejak pandemi 2020. Laporan kinerja keuangan terbaru menunjukkan penurunan signifikan pada penjualan kuartal pertama, terutama di Amerika Serikat, pasar domestik yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan bisnisnya.

Penurunan ini melampaui prediksi analis yang memperkirakan penurunan hanya sebesar 1,7 persen. Bahkan, ini menjadi yang terburuk sejak anjlok 8,7 persen di masa awal pandemi covid-19. “Kami tetap berhati-hati terhadap kesehatan konsumen secara keseluruhan,” ujar CEO McDonald’s Chris Kempczinski. Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi McDonald’s saat ini secara global dan apa yang bisa kita pelajari dari perubahan ini?

Inflasi dan kekhawatiran tarif picu tekanan konsumen

Penurunan ini bukan hanya akibat cuaca buruk, tapi juga karena meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap inflasi. Kebijakan tarif Presiden Trump yang diprediksi akan kembali diberlakukan turut meningkatkan kecemasan akan lonjakan harga dan ancaman resesi.

Kempczinski menyebutkan bahwa bukan hanya konsumen berpenghasilan rendah yang mulai mengencangkan ikat pinggang, tetapi juga kelas menengah.

“Konsumen berpenghasilan menengah terbebani oleh dampak kumulatif dari inflasi dan kecemasan yang meningkat,” ungkapnya.

Kinerja Global Juga Menurun

Secara global, McDonald’s melaporkan penurunan penjualan 1% untuk gerai-gerai yang telah beroperasi minimal 13 bulan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di belahan dunia lain. Laba per saham (EPS) memang masih sejalan dengan ekspektasi, namun total pendapatan perusahaan tercatat di bawah perkiraan analis Wall Street.

Beberapa analis bahkan telah menurunkan proyeksi kinerja McDonald’s sebelum laporan ini keluar. Mereka menyoroti cuaca buruk di awal tahun serta kecenderungan konsumen untuk menahan pengeluaran. McDonald’s juga mencatat bahwa perbandingan kinerja kuartal ini menjadi tidak seimbang karena kuartal I-2024 memiliki satu hari tambahan akibat tahun kabisat, yang secara teknis menekan pertumbuhan year-on-year.

Wilayah Inggris Menekan, Jepang dan Timur Tengah Mulai Bangkit

Divisi internasional McDonald’s yang mencakup pasar-pasar besar di luar AS juga menunjukkan dinamika berbeda. Kinerja di Inggris menurun dan turut membebani laporan keseluruhan. Sebaliknya, di wilayah lain seperti Jepang dan Timur Tengah, penjualan di gerai yang telah beroperasi minimal 13 bulan tumbuh 3,5%.

Pertumbuhan ini cukup menggembirakan mengingat wilayah tersebut sempat mengalami tekanan berat tahun lalu akibat aksi boikot terhadap merek-merek asal Amerika Serikat sebagai imbas dari konflik Israel—Palestina.

McDonald’s sendiri memperkirakan bahwa dampak dari aksi boikot tersebut masih akan berlanjut hingga konflik mereda.

Bagaimana dengan Asia Tenggara dan Indonesia?

Secara umum, bisnis McDonald’s di Asia Tenggara relatif bertahan lebih baik dibanding wilayah lain, meskipun tidak sepenuhnya bebas dari tekanan global. Di Indonesia, misalnya, McDonald’s mengakhiri tahun 2024 dengan lebih dari 300 gerai yang masih aktif beroperasi. Namun, perusahaan ini tidak luput dari dampak gerakan boikot yang juga terjadi di dalam negeri.

Penurunan penjualan juga terjadi di Indonesia, terutama akibat persepsi publik dan isu sosial-politik yang memicu ajakan untuk tidak membeli produk-produk tertentu.

Meski begitu, McDonald’s Indonesia tetap menunjukkan niat kuat untuk bertahan dan terus meningkatkan pangsa pasar, bahkan tetap melanjutkan rencana ekspansi, meskipun dengan laju yang lebih hati-hati.

Strategi McDonald’s

Untuk mengatasi situasi ini, McDonald’s menyiapkan sejumlah strategi seperti, menawarkan kembali program McValue dan memperpanjang promo Paket Makanan USD5 hingga akhir 2025.

Lalu, menghadirkan kembali Chicken Strips kesukaan pelanggan, Kolaborasi edisi terbatas dengan film “A Minecraft Movie”, dan menambahkan minuman baru ala CosMc’s, seperti kopi rasa unik dan minuman berenergi. Langkah ini ditujukan untuk menarik kembali minat pelanggan, khususnya generasi muda dan keluarga.

Laba dan pendapatan turun, tapi McDonald’s tetap optimis

Pada kuartal pertama 2025, laba bersih McDonald’s tercatat sebesar USD1,87 miliar, atau USD2,60 per saham. Angka ini menurun dari USD1,93 miliar tahun sebelumnya.

Pendapatan juga turun 3 persen menjadi USD5,96 miliar, tidak memenuhi ekspektasi analis yang memperkirakan USD6,09 miliar. Meski begitu, McDonald’s tetap optimis. Mereka berencana membuka 2.200 lokasi baru di seluruh dunia dan menggelontorkan belanja modal antara USD3 miliar hingga USD3,2 miliar.