7 Fakta Erupsi Gunung Semeru, Pemkab Tetapkan Status Tanggap Darurat
Fakta Nyata – Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mengalami erupsi sejak Rabu 19 November 2025 kemarin. Berdasarkan hasil pemantauan Kamis, 20 November 2025, tercatat sudah ada 32 kali gempa guguran dalam kurun waktu dari pukul 00.00 hingga 06.00 WIB
Letusan besar yang terjadi tidak hanya memicu kepanikan warga di sekitar lereng gunung, tetapi juga menyebabkan puluhan rumah rusak serta 178 pendaki dan petugas terjebak di area Ranukumbolo. Menyusul dengan kondisi Gunung Semeru yang terletak di Lumajang Jawa Timur, berikut ini sejumlah fakta-fakta mengenai Gunung Semeru.
1. Status naik menjadi awas
Rabu 19 November 2025, Badan Geologo telah menaikkan status Gunung Semeru dari level III ke level IV atas awas dalam kurun waktu satu hari. Lantaran peningkatan aktivitas gunung api tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi. Salah satunya masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi). PVMBG juga mengimbau agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru. Hal itu dikarenakan rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
2. Semburkan Awan Panas Sejauh 5,5 Km
Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meluncurkan awan panas sejauh 5,5 km. Dilansir detikJatim, Rabu (19/11), awan panas sejauh 5,5 kilometer itu meluncur dari kawah hingga ke kawasan Besuk Kobokan.
Kolom abu terpantau berwarna kelabu pekat dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat laut hingga utara. Erupsi juga terekam alat seismograf Pos Pengamatan Gunung Semeru dengan amplitudo maksimum 40 mm dengan durasi 16 menit 40 detik.
“Gunung Semeru luncurkan awan panas guguran sejauh 5,5 kilometer ke arah Besuk Kobokan,” ujar Kepala BPBD kabupaten Lumajang Isnugroho.
3. Pemerintah Kabupaten Lumajang Tetapkan Status Tanggap Darurat
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang disebut akan menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari imbas erupsi Gunung Semeru. Penetapan status tanggap darurat ini mulai berlaku pada Rabu, 19 November 2025 hingga 26 November 2025.
BNPB juga turut memantau potensi dampak dan kemungkinan terjadinya pengungsian warga. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dalam hal ini juga telah memerintahkan jajaran untuk merespons perkembangan situasi dan dampak erupsi. “Khususnya dampak korban, kerusakan dan pengungsian,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Rabu, 19 November 2025.
4. Ada 178 pendaki dan petugas terjebak di Ranukumbolo
Sebanyak 178 orang, terdiri dari pendaki dan petugas, masih terjebak di area Ranukumbolo saat erupsi Gunung Semeru terjadi. Kepala Bagian Tata Usaha Balai TNBTS, Septi Eka Wardhani, menjelaskan bahwa evakuasi tidak dapat dilakukan karena kondisi jalur sangat berbahaya, terutama pada malam hari.
Dari jumlah tersebut, terdapat 137 pendaki, satu petugas, dua saver, tujuh anggota PPGST, 15 porter, serta enam orang dari tim Kementerian Pariwisata. Mereka diminta tetap bertahan di lokasi sambil menunggu perkembangan situasi dan menjaga kesiagaan apabila sewaktu-waktu diperlukan evakuasi darurat.
“Total ada 178 orang di Ranukumbolo. Ada 137 pendaki, satu petugas, dua saver, tujuh PPGST, 15 porter, enam orang dari tim Kementerian Pariwisata,” ujar Septi.
5. Warga berteriak histeris saat awan panas menyapu
Letusan dahsyat Gunung Semeru memicu guguran awan panas yang meluncur hingga 13 kilometer ke arah Jembatan Gladak Perak.
Video yang beredar menunjukkan suasana mencekam ketika guguran awan panas terlihat mendekati lembah di bawah jembatan, membuat warga yang semula sekadar memantau langsung berlarian menjauh.
Teriakan histeris terdengar bersahutan. Sebagian warga saling mengingatkan untuk segera menyelamatkan diri dengan mencari tempat yang lebih tinggi. Awan panas tersebut mengarah ke dua aliran sungai, yakni Curah Kobokan dan Kali Lanang atau Besuk Lengkong di Desa Supit Urang.
Warga Dusun Kamar Kajang juga dilaporkan panik dan segera mengungsi. Petugas gabungan masih melakukan pemantauan kondisi untuk memastikan tidak ada korban tertinggal.
6. Pasutri Jatuh di Jembatan
Pasangan suami istri asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur menjadi korban awan panas Gunung Semeru. Keduanya diketahui terjatuh di Jembatan Gladak Perak pada Rabu 19 November. Menurutnya kronologi kejadian berdasarkan laporan yang diterima menyebutkan bahwa kendaraan motor yang digunakan korban tergelincir akibat jalanan licin dan tertutup awan panas Semeru.
Berdasarkan keterangan Sekda Lumajang, Agus Triyono pasangan suami istri tersebut sudah dirujuk ke Rumah Sakit Pasirian Kabupaten Lumajang Rabu malam kemarin setelah sebelumnya ditangani di Puskesmas Candipuro.
“Korban mengalami luka bakar sekitar 20 persen setelah terjatuh saat melintas di jembatan Perak yang licin dan tertutup abu panas akibat erupsi Gunung Semeru yang disertai luncuran guguran awan panas,” kata dia.
7. Jalur Pendakian Ditutup
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) resmi menutup total aktivitas pendakian Gunung Semeru pascaerupsi. Penutupan ini mengacu rekomendasi Badan Geologi Kementerian ESDM yang meningkatkan status Gunung Semeru dari level III (waspada) ke level IV (awas).
Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyampaikan bahwa keputusan penutupan ini dilakukan sebagai langkah mitigasi untuk menghindari potensi risiko bagi pendaki maupun masyarakat sekitar. Dia menjelaskan, peningkatan status ke level IV (awas) menandakan adanya potensi bahaya erupsi yang signifikan dan perlu diwaspadai.
Rudijanta juga mengatakan bahwa berdasarkan rekomendasi Badan Geologi masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di radius 8 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
