6 Fakta Unik Bhutan, Punya Bandara paling Berbahaya

Fakta Nyata – Tersembunyi di antara pegunungan Himalaya, Bhutan menjadi salah satu negara paling misterius di dunia. Negara kecil yang berbatasan dengan China dan India ini memiliki cara unik dalam menjalani kehidupan modern sambil tetap mempertahankan tradisi. Kalau kamu pikir semua negara cuma soal ekonomi dan teknologi, Bhutan hadir dengan cara berbeda.

Bhutan tidak besar, luasnya hanya sekitar 14.800 mil persegi atau 38.400 kilometer persegi. Negara mungil itu menganut sistem kerajaan dan menjadi salah satu negara terpadat di Asia selatan. Orang Bhutan biasa menyebut negaranya dengan druk yul yang berarti tanah naga.

Fakta Unik Bhutan

Dalam artikel ini, kami akan memberikan informasi lengkap mengenai Bhutan, mulai dari alasan di balik keputusan tanpa lampu merah, destinasi wisata alam yang wajib dikunjungi, hingga tips berkunjung agar perjalananmu semakin berkesan.

1. Menjaga lingkungan dengan cinta

Bhutan adalah salah satu negara yang paling peduli dengan lingkungan di dunia. Konstitusi Bhutan mewajibkan minimal 60 persen wilayahnya harus berupa hutan. Saat ini, lebih dari 70 persen wilayah Bhutan masih tertutup hutan primer, menjadikannya satu-satunya negara di dunia yang karbon negatif. Artinya, Bhutan menyerap lebih banyak karbon dioksida daripada yang dihasilkannya. Bhutan memproduksi lebih banyak oksigen daripada karbon dioksida yang dihasilkan! Gak heran kalau Bhutan dianggap sebagai negara paling ramah lingkungan di bumi.

Penduduk Bhutan juga sangat bergantung pada energi terbarukan, terutama dari tenaga air. Jadi, negara ini bisa hidup hemat energi sambil tetap menjaga keasrian alamnya. Ini bukan cuma soal aturan, tapi budaya Bhutan memang mengajarkan untuk hidup selaras dengan alam.

2. Tak ada lampu lalu lintas

Berkendara di Bhutan dianggap sebagai petualangan yang agak berbahaya karena jalan-jalannya yang berliku dan terjal di daerah pegunungan. Sering kali, pengemudi harus berhadapan dengan kawanan hewan seperti sapi dan kerbau yang berkeliaran secara bebas di jalan.

Orang Bhutan memiliki kebiasaan untuk berhenti dan saling menyapa di tengah jalan. Namun, meskipun kondisi jalan yang sulit, penduduk Bhutan mengemudi dengan hati-hati dan pelan, sehingga tidak diperlukan lampu lalu lintas untuk mengatur lalu lintas.

Sebagai pengganti lampu lalu lintas, polisi berdiri di persimpangan utama untuk mengarahkan lalu lintas. Mereka menggunakan tindakan langsung untuk mengatur aliran kendaraan. Penggunaan lampu lalu lintas dipandang kurang disukai oleh penduduk Bhutan, sehingga sering kali lampu tersebut dipasang hanya untuk sebentar sebelum segera dihapus.

3. Mengatur jumlah wisatawan dengan ketat

Untuk menjaga keaslian dan lingkungan, Bhutan membatasi jumlah wisatawan yang datang setiap tahunnya. Wisatawan wajib membayar tarif harian yang cukup tinggi, sudah termasuk penginapan, makanan, dan pemandu wisata resmi. Tujuannya agar wisata tetap berkualitas dan tak merusak budaya maupun alam.

Meski tarifnya mahal, banyak turis yang rela datang karena pengalaman yang ditawarkan memang unik dan eksklusif. Cara ini membantu Bhutan menjaga citranya sebagai negara yang eksotis dan penuh misteri.

4. Budaya dan tradisi Bhutan tetap hidup

Walau dunia makin modern, Bhutan tetap memegang teguh tradisi uniknya. Contohnya, mereka masih pakai pakaian tradisional sehari-hari, seperti kira dan gho. Festival warna-warni yang melibatkan tarian dan ritual agama juga rutin diadakan, menjadi momen penting bagi masyarakat.

Budaya Bhutan juga sangat dipengaruhi agama Buddha yang kuat, yang mengajarkan kedamaian dan kebijaksanaan. Tradisi dan agama ini jadi perekat masyarakat sekaligus daya tarik wisatawan yang ingin merasakan suasana berbeda.

5. Ilegal untuk membunuh hewan apapun

Bhutan adalah negara yang menghargai kehidupan hewan, dengan kebijakan yang melarang penduduknya membunuh hewan atau burung mana pun. Mereka memperhatikan konservasi lingkungan dengan sungguh-sungguh, namun, konsumsi daging masih cukup umum di negara ini.

Asas hukum ini berasal dari nilai-nilai tradisional yang berasal dari ajaran Buddha, yang mengajarkan larangan terhadap pembunuhan makhluk hidup. Oleh karena itu, semua daging yang dikonsumsi di Bhutan diimpor dari negara lain.

6. Punya bandara paling berbahaya

Bandara Paro di Bhutan masuk jajaran bandara paling berbahaya di dunia. Bandara kecil ini terletak di lembah yang dalam dan dikelilingi oleh puncak-puncak tajam dengan ketinggian mencapai 5.500 meter.

Angin kencang sering kali menerpa lembah, menyebabkan turbulensi yang kuat. Penerbangan hanya diizinkan pada siang hari dan dalam kondisi cuaca yang memungkinkan visibilitas visual di mana pilot membuat penilaian dengan mata mereka sendiri daripada mengandalkan instrumen pesawat.

Berani tidak coba ke Bandara Paro?