Sejarah dan Fakta Budaya Tari Seblang Asal Bayuwangi
Fakta Nyata – Bicara tentang budaya Indonesia memang tak ada habisnya. Setiap daerah di Tanah Air ini, selalu ada tradisi budaya yang unik dan khas. Salah satu budaya yang mudah dikenali adalah tari tradisional. Seperti Provinsi Jawa Timur mempunyai banyak seni tari, contohnya tari yang dikenal masyarakat Banyuwangi adalah tari Seblang.
Tarian ini tak hanya menggabungkan seorang penari dengan musik tradisional, tetapi juga mengandung unsur mistis. Berikut ulasan lebih lengkapnya!
Sejarah Dari Tari Seblang
Mengutip dari wikipedia, Tari Seblang sudah ada sejak tahun 1930 tepatnya di Desa Olehsari. Tari Seblang adalah warisan budaya yang sudah berusia ratusan tahun. Salah satu teori menyatakan bahwa penari Seblang pertama yang adalah Semi. Semi merupakan pelopor tari Gandrung wanita pertama.
Tari Seblang bertumbuh dan berkembang di daerah Banyuwangi, tepatnya di Desa Bakungan dan Olehsari. Sehingga, tarian ini terkenal dengan ritual upacara masyarakat Osing.
Tari Seblang tak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi terdapat makna spiritual antara manusia dan alam semesta. Umumnya, Tari Seblang sebagai ritual untuk tolak bala dan bersih desa. Uniknya, para penari adalah perempuan yang memiliki keturunan dari penari Seblang sebelumnya. Pemilihan penari tersebut secara supranatural oleh tetua adat setempat.
Ritual Tari Seblang dari dua desa ini, yaitu Desa Olehsari dan Bakungan. Keduanya, sama-sama dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut dengan kondisi penari kerasukan oleh roh leluhur. Pada saat proses menari, terdapat juga momen penari melemparkan gulungan selendang kepada penonton. Penonton yang terkena selendang harus menari diatas panggung bersama penari Seblang. Apabila penonton yang terkena selendang tidak mau, maka penari akan mengejar.
Fakta Menarik Tari Seblang

Tujuan tari Seblang sebagai upaya bersih desa agar terhindar dari marabahaya. Ada beberapa fakta menarik yang perlu diketahui tentang tari Seblang. Berikut fakta menarik tari Seblang Olehsari.
Tari Seblang dibawakan dari keturunan penari seblang sebelumnya
Tari Seblang harus dibawakan oleh para penari keturunan dari penari sebelumnya dan dipilih langsung oleh dukun atau tetua adat setempat. Namun, untuk kriteria penari pun berbeda-beda antara Desa Olehsari dan Desa Bakungan.
Ketentuan di Desa Olehsari, penari harus dalam usia sebelum akil balik, sedangkan di Bakungan, penari haruslah wanita berusia 50 tahun ke atas, atau yang telah menopause. Wanita yang sebelum akil balik dan sudah menopause dianggap suci.
1. Gerakan Tari Abstrak
Gerakan yang dilakukan penari Seblang sangatlah unik, pasalnya tidak ada ketentuan khusus atau aturan yang berlaku untuk melakukan tarian seperti tarian pada umumnya. Namun, meskipun tarian ini dilakukan dengan melakukan tarian abstrak, ada beberapa ragam gerak/vokabuler/sekaran yang banyak dilakukan.
Vokabuler paling mendominasi itu terdiri atas sapon, egol, dhaplang, dan celeng mogok. Ada juga pola lantai yang digunakan pada tari Seblang didominasi pada pola lingkaran. Pola lantai ini mempunyai makna filofofis, yang artinya bakungan untuk tetap utuh dan tidak terputus dengan tujuan tetap dapat menjalin dan menjaga kerukunan dan persatuan.
2. Ritual Seblang dilaksanakan selama 7 hari
Pelaksanaan ritual seblang dilakukan selama tujuh hari dan pada hari terakhir terdapat prosesi seblang idher bumi keliling kampung.
Penari seblang akan diberi ritual berupa kekuatan magis yang membuatnya mampu menari setiap hari selama enam jam dan tujuh hari berturut-turut tanpa lelah.
3. Harus ikut menari bila terkena selendang
Di pertengahan ritual, biasanya penari akan melemparkan selendangnya secara acak. Penonton yang mendapat lemparan selendang harus ikut menari bersama dengan penari seblang selama beberapa waktu.
Jika penonton yang terkena selendang tidak ikut menari ia akan dikejar-kejar oleh penari seblang sampai mau ikut menari.
4. Penari dalam Keadaan Kerasukan
Keunikan lain dari tari Seblang adalah penari akan menari dalam keadaan kerasukan. Fenomena ini tidak dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan, tetapi lebih sebagai tanda bahwa penari telah diambil alih kekuatan roh yang dipercayai masyarakat sebagai leluhur desa.
Proses kerasukan ini dianggap sebagai peristiwa yang sakral, di mana roh leluhur hadir untuk menyampaikan berkah dan menjaga kesejahteraan desa. Ketika kerasukan, penari akan bergerak sesuai arahan roh, membuat gerakan tarian yang abstrak, namun bermakna dalam konteks spiritual.
Kondisi kerasukan ini membuat penari Seblang tidak sepenuhnya sadar dengan gerakan yang mereka lakukan. Tetapi, penari Seblang tetap mengikuti alunan musik dan tradisi yang telah ada.
Hal ini memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap adanya hubungan kuat antara dunia roh dan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi kerasukan dalam tarian ini dianggap sebagai wujud komunikasi langsung dengan roh leluhur yang akan menjaga keseimbangan dan ketentraman desa.
