Sebaran SO₂ Gunung Anak Krakatau ke Jabodetabek, Ini Penjelasan BMKG

Fakta Nyata – Informasi mengenai sebaran gas sulfur dioksida (SO₂) dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut mengarah ke Jabodetabek dan Banten ramai beredar di media sosial. Kondisi ini memicu kekhawatiran karena SO₂ dalam konsentrasi tinggi dapat berdampak terhadap kesehatan.

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa sebaran SO₂ memang terpantau meluas. Namun, luasnya sebaran gas pada peta atmosfer tidak serta-merta menunjukkan tingkat bahaya yang dirasakan masyarakat di permukaan.

BMKG Jelaskan Sebaran SO₂

Prakirawan cuaca BMKG, Alpon Sepriando, mengatakan kondisi udara di permukaan sebaiknya mengacu pada angka kualitas udara resmi pemerintah. Warna pada peta satelit kolom atmosfer tidak dapat dijadikan patokan.

“Untuk tahu apakah udara yang kita hirup hari ini benar-benar berbahaya atau tidak, patokan yang tepat adalah angka kualitas udara resmi dari pemerintah, bukan warna merah pada peta satelit kolom atmosfer,” ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (6/9/2026) malam.

Menurut Alpon, masyarakat masih dapat beraktivitas secara normal jika kualitas udara di permukaan berada dalam kategori baik atau sedang. Kondisi tersebut tetap dapat terjadi meskipun terdapat plume SO₂ yang cukup tebal di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

SO₂ Mengalami Perubahan di Atmosfer

Alpon menjelaskan bahwa sebagian kecil SO₂ yang bertahan di atmosfer dapat bereaksi dengan oksigen dan uap air selama terbawa angin. Proses tersebut membuat SO₂ berubah menjadi partikel halus yang disebut aerosol sulfat.

“Gas tersebut sudah bereaksi dengan oksigen dan uap air di atmosfer, berubah wujud menjadi partikel halus yang disebut aerosol sulfat,” kata Alpon.

Setelah terbawa angin sejauh ratusan kilometer, SO₂ tersebut tidak lagi berada dalam kondisi yang sama seperti gas murni dan pekat di sekitar kawah Gunung Anak Krakatau.

Abu Vulkanik Lebih Dominan di Permukaan

BMKG menyebut material yang lebih dominan mencapai permukaan dan dirasakan masyarakat saat ini adalah abu vulkanik. Abu tersebut dapat bercampur dengan sebagian kecil partikel hasil perubahan SO₂ di atmosfer.

“Karena itu, saat ini yang dominan sampai ke permukaan dan dirasakan warga Jabodetabek adalah abu vulkanik bercampur sebagian kecil partikel hasil perubahan gas SO₂ tersebut. Bukan gas SO₂ murni dan pekat seperti yang ada tepat di sekitar kawah,” ujarnya.

Cek Kualitas Udara Resmi

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan kondisi udara di permukaan berdasarkan warna atau luas sebaran pada peta satelit. Untuk mengetahui kondisi udara yang sebenarnya, masyarakat disarankan mengacu pada informasi kualitas udara resmi dari pemerintah