Rangkuman Fakta Ambruknya Ponpes Khoziny, Sidoarjo

Fakta Nyata – Pada Senin, 29 September 2025 sekitar pukul 15.00 WIB, Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk saat para santri sedang menjalankan salat Asar berjemaah. Kejadian memilukan ini memicu pencarian intensif korban dan penyelidikan atas penyebab keruntuhan. Sebanyak 140 santri yang tengah salat Asar berjamaah tertimpa reruntuhan ketika bangunan tengah dicor. Dengan 102 santri berhasil dievakuasi, 3 di antaranya meninggal dunia, sementara 38 masih terjebak.

Tim SAR pun langsung dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban yang tertimpa reruntuhan. Belasan ambulans juga didatangkan ke lokasi untuk membantu evakuasi korban. Berikut rangkuman fakta-fakta penting seputar tragedi ambruknya musala Ponpes Khoziny:

1. Diduga Akibat Kegagalan Konstruksi (Struktur)

Tim SAR bersama pakar konstruksi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyimpulkan bahwa bangunan mengalami kegagalan struktur, dalam bentuk keruntuhan progresif “pancake collapse”.

Kepala Subdirektorat Pengendali Operasi Bencana, Direktorat Operasi Basarnas, Emi Freezer menyatakan bahwa bangunan semula dirancang untuk tiga lantai, tetapi ambruk sebelum menyelesaikan tahap akhir.

Runtuhan membentuk tumpukan vertikal di sisi kiri bangunan. Gaya keruntuhan seolah “jatuh ke tengah”, sehingga jalur evakuasi tertutup oleh lantai yang runtuh sejajar lantai dasar.

2. Tak punya IMB

Bangunan musala yang ambruk tersebut diduga tak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

“Ini saya tanyakan izin-izinnya mana, tetapi ternyata enggak ada. Tadi ngecor lantai tiga, karena konstruksi tidak standar, jadi akhirnya roboh,” kata Bupati Sidoarjo Subandi.

Ia pun menyayangkan hal itu. Menurutnya banyak pesantren lebih mendahulukan pembangunan dan mengesampingkan faktor perizinan.

“Jadi banyak pondok itu kadang bangun masjid, pondok, kadang dia tidak mengurus IMB-nya dulu, langsung bangun. Baru selesai [membangun], izin-izin ini baru selesai termasuk IMB ini harus dilakukan dulu agar konstruksi sesuai standar,” ucapnya.

3. Bangunan Awalnya Hanya Direncanakan Satu Lantai

Pakar Teknik Sipil Struktur ITS, Mudji Irmawan, menyebut bangunan ponpes sejak awal direncanakan hanya satu lantai, namun karena penambahan jumlah santri kemudian dipaksakan hingga tiga lantai tanpa perencanaan teknis yang matang.

“Kalau kita lihat sejarah pembangunan ruang kelas pondok pesantren ini awalnya merupakan bangunan yang direncanakan cuman satu lantai,” kata Mudji, Selasa (30/9/2025).

4. Proses Belajar Tetap Berjalan di Tengah Pengecoran

Mudji juga menyoroti kegiatan belajar mengajar di ponpes tetap berlangsung meskipun pengecoran lantai tiga tengah dilakukan, kondisi ini membuat risiko semakin besar ketika bangunan dalam keadaan tidak stabil.

“Struktur bangunan atau konstruksi bangunan yang sedang dikerjakan tiga lantai tersebut menjadi tidak stabil atau labil. Celakanya di lantai satu masih dipakai untuk kegiatan belajar, ngaji,” tegasnya.

5. Tanggapan Pemerintah  

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa biaya pengobatan korban akan dibebankan kepada pemerintah provinsi maupun kabupaten sesuai lokasi perawatan.

Sementara itu, Pemkab Sidoarjo mengimbau agar pembangunan di wilayahnya memiliki izin resmi dan mematuhi regulasi teknis agar kejadian serupa tidak terulang.

Investigasi lebih mendalam akan dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti runtuhnya musala, termasuk audit desain, kualitas material, dan kepatuhan regulasi. Rencana rekonstruksi serta langkah pemulihan akan ditetapkan setelah proses penanganan darurat selesai.