Fakta dan Sejarah Gunung Tambora
Fakta Nyata – Gunung Tambora terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Gunung Tambora adalah gunung berapi aktif yang memiliki ketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung Tambora sempat menggelapkan hampir seluruh bumi dengan letusannya yang dahsyat.
Letusan dahsyat Tambora dimulai pada 5 April 1815 dengan getaran kecil dan alitan piroklastik. Ledakan dahsyat menghancurkan gunung itu pada malam hari tanggal 10 April. Ledakan, aliran piroklastik, serta tsunami yang terjadi setelahnya menewaskan sedikitnya 10 ribu penduduk pulau dan menghancurkan rumah 35.000 lainnya.
Sebelum letusannya, Gunung Tambora tingginya sekitar 4.300 meter. Setelah letusan berakhir, kaldera yang membentang sekitar 6 km tetap ada. Banyak ahli vulkanologi menganggap letusan Gunung Tambora sebagai peristiwa vulkanik terbesar dan paling merusak dalam sejarah, mengeluarkan sebanyak 150 km kubik (kira-kira 36 mil kubik) abu, batu apung dan batuan lainnya, serta aerosol termasuk sekitar 60 megaton letusan Gunung Tambora.
Penasaran dengan gunung ini? Mari simak sejarah dan fakta menarik Gunung Tambora yang dirangkum dari berbagai sumber.
Sejarah dan Letak Gunung Tambora
Gunung Tambora juga biasa disebut dengan Gunung Tombom adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di Pulau Sumbawa.Berada di antara dua kabupaten yakni Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima tepatnya pada lintang 80 15′ LS dan 1180 BT. Gunung ini mulanya terbentuk atas busur tepi benua yang disebabkan oleh penunjang kerak samudera yang bergeser ke kerak benua.
Termasuk Gunung Stratovolcano Aktif
Gunung berapi strato dicirikan oleh puncak berbentuk kerucut dan terbuat dari beberapa lapisan lava dan tephra yang mengeras. Gunung berapi ini juga dianggap sebagai gunung berapi yang paling mematikan dari semua jenis gunung berapi.
Sekitar 12.000 kematian terjadi akibat langsung dari letusan. Lebih dari 50.000 orang menjadi korban kelaparan, penyakit bronkial, dan tsunami yang disebabkan oleh letusan gunung berapi. Seluruh vegetasi di wilayah tersebut mati akibat aliran lahar, dan abu yang berjatuhan menyebabkan berbagai masalah pernapasan di antara para penyintas letusan.
Sebabkan perubahan iklim
Hujan abu vulkanis terjadi di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Letusan tersebut menelan korban jiwa sedikitnya 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya merupakan korban langsung dari letusan.
Beberapa peneliti memperkirakan jumlah korban jiwa mencapai 92.000 orang, tetapi angka ini diragukan karena dinilai terlalu besar. Letusan tersebut juga menyebabkan perubahan iklim dunia saat itu.
Diketahui bahwa pada tahun 1916 disebut sebagai tahun tanpa musim panas dengan adanya perubahan cuaca drastis di Amerika Utara dan Eropa. Ini akibat debu yang dihasilkan dari letusan. Peristiwa tersebut menyebabkan kegagalan panen dan kematian ternak massal, ini menyebabkan wabah kelaparan terburuk sepanjang masa pada abad ke-19.
Arti nama tambora
Tambora sendiri konon berasal dari kata lakambore. Dalam bahasa Bima, lakambore berarti mau ke mana. Versi lain mengatakan bahwa Tambora bersala dari dua kata, yaitu ta yang berarti mengajak dan mbora yang berarti menghilang. Hal ini berkaitan dengan hilangnya sebagian dari gunung itu sendiri.
Sebelum mengalami erupsi, Gunung Tambora dapat dikatakan sebagai gunung dengan ketinggian nomor dua di Indonesia setelah Puncak Jaya di Papua.
Letusan 1815 Menyebabkan Penemuan sSpeda
Letusan tahun 1815 diklasifikasikan sebagai VEI-7.VEI—Volcanic Explosivity Index—indeks ledakan gunung berapi skala 1–8 menggambarkan letusan tahun 1815 sebagai letusan super-kolosal. Di antara letusan-letusan yang tercatat dalam sejarah modern, seperti Cumbre Vieja (2021), Vesuvius (79), Gunung St. Helens (1980), Krakatau (1883), atau Gunung Pinatubo (1991), sejauh ini letusan Gunung Tambora merupakan satu-satunya letusan VEI- 7.
Musim dingin vulkanik tahun 1816 mempengaruhi seluruh dunia. Letusan Gunung Tambora menutupi bumi dengan lapisan abu yang tidak dapat ditembus, sehingga mematikan pohon buah-buahan, tanaman pangan, dan ternak. Harga sembako naik lebih dari 700 persen sehingga masyarakat kesulitan memberi makan kuda, alat transportasi utama di abad ke-19. Hal ini mendorong penemu Jerman, Karl von Drais, untuk membuat mesin transportasi yang memungkinkan manusia melakukan perjalanan tanpa menggunakan kuda.
