7 Fakta Tersembunyi Laut Terdalam
Fakta Nyata – Sama seperti permukaan tanah yang memiliki puncak dan lembah yang sangat besar, dunia laut juga memiliki topografi yang bervariasi, bahkan menyimpan tempat terdalam dengan kegelapan yang misterius.
Namun, lebih dari 80 persen lautan belum pernah dieksplorasi, dipetakan, bahkan dilihat oleh manusia. Wah, sebegitu luasnya, ya, lautan Bumi! Tak sekadar itu, bagian laut dalam sangatlah dingin, gelap gulita, dan mustahil bagi manusia untuk menjelajahinya, kecuali menggunakan kapal selam yang dirancang khusus.
Akan tetapi, beberapa makhluk laut mampu bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem ini. Di satu sisi, kita mengenal laut yang indah, penuh dengan terumbu karang dan kehidupan layaknya film Finding Nemo. Memang berbeda 180 derajat, tetapi itulah faktanya. Apa itu deep sea atau laut dalam dan apa sih yang bersembunyi di kegelapan tersebut? Simak tujuh faktanya, yang berasal dari berbagai sumber.
1. Laut dalam memiliki tekanan yang tinggi
Mayoritas kedalaman lautan belum dijelajahi, terutama karena tekanan airnya. Ini dikenal sebagai tekanan hidrostatis. Sebagaimana dicatat oleh The Woods Hole Oceanographic Institution, jumlah tekanan yang dirasakan saat berada di permukaan laut atau pantai—jumlah yang biasa dirasakan kebanyakan orang—adalah 1 tekanan atmosfer (atm). Semakin dalam suatu perairan, semakin besar tekanan hidrostatisnya.
Pada kedalaman 10 meter lebih di bawah permukaan laut, tekanan airnya bisa dua kali lipat dari tekanan di permukaan laut. Rata-rata kedalaman dasar laut sekitar 3.600 meter, tapi ada wilayah yang kedalamannya bisa mencapai 11 kilometer dari permukaan laut. Itu sebabnya, untuk menjelajahi kedalaman lautan sejauh ini, kendaraan atau kapal selam harus dirancang menahan tekanan sekitar 380 sampai 1.100 atmosfer.
2. Sulit untuk dijelajahi
Menurut National Ocean Service, lebih dari 80% lautan kita belum dipetakan, diamati, dan dijelajahi. Peneliti lebih banyak mengandalkan teknologi seperti sonar untuk menghasilkan peta dasar laut. Sebab, penggunaan kendaraan laut seperti kendaraan bawah air otonom (AUV/Autonomous Underwater Vehicle) dan kendaraan yang dioperasikan dari jauh (ROV/Remotely Operated Vehicle) sulit dan mahal.
Selain itu, Oceana mengutip bahwa tekanan yang kuat di laut membuatnya menjadi lingkungan yang sangat sulit untuk dijelajahi. Oleh karena itu, mengirim orang ke luar angkasa lebih mudah dibandingkan mengirim orang ke dasar laut.
Kesulitan bukan satu-satunya alasan yang menyebabkan banyaknya daerah laut yang belum dijelajahi. Masih mengutip sumber yang sama, eksplorasi untuk mengumpulkan banyak informasi tentang laut memang penting. Namun, banyak lembaga di seluruh dunia yang enggan mendanai proyek yang berhubungan dengan sesuatu yang minim informasi, seperti laut.
3. Zona lautan dalam tidak memiliki sinar Matahari
Sinar Matahari merupakan sumber panas, cahaya, dan energi bagi sebagian besar planet ini. Namun, di tiga lapisan terdalam lautan, sinar Matahari sama sekali tidak terlihat. Tentunya hal ini sangat menakutkan, ya!
Zona yang paling dekat dengan permukaan laut disebut zona terang Matahari (zona fotik) karena sinar Matahari menyinari dan menghangatkan air di zona ini. Suhu di zona ini berkisar antara 36 derajat celsius hingga -2 derajat celsius. Wilayah di bawahnya disebut twilight zone (zona senja). Zona ini cukup gelap, tapi masih diterangi sinar Matahari.
Lalu, sekitar 1.000 meter di bawah permukaan laut, ada midnight zone (zona batial). Zona ini benar-benar gelap sepenuhnya dan suhunya sekitar 4 derajat celsius. Berikutnya adalah zona abisal, yang sama gelapnya dengan midnight zone. Zona ini juga hampir mendekati titik beku. Namun, palung laut terdalam disebut zona hadal, yang kedalamannya dimulai dari 6 ribu meter hingga 11 ribu meter di bawah permukaan laut dan membentang sedalam samudra.
4. Cara makhluk hidup laut dalam mencari makan
Zona laut yang dalam memaksa organisme di dalamnya untuk beradaptasi. Dilansir MarineBio, makhluk hidup laut dalam akan memakan bangkai, misalnya sisa-sisa mikroba, alga, tumbuhan, dan hewan yang membusuk dari zona atas laut. Salah satu contoh bangkai hewan yang dimaksud adalah paus.
Beberapa spesies di zona mesopelagik beradaptasi dengan perilaku yang disebut migrasi vertikal. Saat senja, jutaan ikan lentera, udang, ubur-ubur, dan hewan lainnya bermigrasi ke permukaan air yang kaya akan makanan untuk mencari makan di kegelapan malam.
Mereka pun kembali ke kedalaman saat fajar tiba, tujuannya untuk mencerna makanan. Aksi ‘pulang’ ke laut dalam ini juga mungkin terjadi karena jutaan hewan tersebut menghindari predator.
Cara mencari makan yang ketiga adalah dengan menyaring. Contohnya, Megalodicopia hians yang memiliki pipa besar dengan bentuk mirip rahang yang dapat dengan cepat menelan hewan yang berenang.
5. Danau di laut dalam
Kamu mungkin mengira kalau danau hanya ada di daratan. Nyatanya, danau juga dapat ditemukan di dasar lautan, lho. Walau kelihatannya mustahil, danau di laut dalam ternyata memiliki permukaan seperti di daratan. Danau laut ini bahkan mempunyai ombaknya tersendiri.
Seperti yang dijelaskan Smithsonian Ocean, danau-danau ini terpisah dari lautan di sekitarnya karena airnya jauh lebih padat dan asin dibandingkan air laut lainnya. Air di danau ini juga tidak tercampur dengan air laut di sekitarnya. Dipercaya bahwa danau-danau ini berasal dari lautan purba atau sejak periode Jura. Air di danau ini juga sangat padat. Kapal selam bisa dengan mudah mendarat di permukaannya.
Air asin di danau-danau ini penuh dengan metana, yang bisa membunuh sebagian besar hewan laut yang masuk ke danau. Kendati demikian, ada bakteri dan organisme bersel tunggal yang mampu bertahan hidup meski menghirup gas metana ini. Ada juga kerang yang memakan bakteri ini sehingga kerang-kerang tersebut dapat ditemukan di tepi danau air asin laut ini.
6. Ventilasi hidrotermal
Meski sebagian besar laut dalam bersuhu sangat dingin, ada beberapa tempat yang airnya sangat panas. Dikenal sebagai ventilasi hidrotermal, ventilasi ini menyemburkan semacam asap pekat. Ini terjadi ketika area vulkanik yang aktif atau magma di bawahnya membuat air laut memanas hingga 300 derajat celsius. Nah, kemudian air panas ini menyembur dari celah-celah kerak Bumi.
Meski telah dipanaskan dengan suhu yang ekstrem, air yang menyembur dari celah-celah ini tidak mendidih. Hal ini karena adanya tekanan yang sangat besar di dasar laut. Meski demikian, air tersebut juga mengandung mineral, yang terbentuk ketika cairan hidrotermal panas bertemu dengan air laut yang dingin. Saat air mendingin, mineralnya mengeras dan menciptakan ventilasi. Beberapa berwarna hitam dengan kandungan besi sulfida, disebut “asap hitam”, ada juga yang mengandung barium, kalsium, dan silikon atau disebut “asap putih”.
Diketahui bahwa organisme dapat hidup tanpa sinar Matahari karena organisme ini memanfaatkan mineral dari ventilasi. Salah satu contohnya adalah kepiting yeti (kepiting berbulu). Seperti yang dijelaskan MBARI, kepiting berbulu ini hidup sekitar 2.200 meter di bawah permukaan laut, sekitar lubang hidrotermal dekat Pulau Paskah di Chili. Nah, rambut pada capit kepiting ini digunakan untuk menangkap bakteri. Bakteri ini sengaja dikumpulkan di bulu-bulu capitnya untuk dijadikan sumber makanan bagi kepiting yeti ini.
7. Twilight zone terancam
Twilight zone terancam karena kapal-kapal di laut terbuka tanpa regulasi telah menyedot ratusan ribu hewan kecil mirip udang yang disebut krill (Euphausiacea). Hewan itu digiling menjadi tepung ikan dan minyak krill.
Aksi ini punya konsekuensi berskala global terhadap kehidupan laut dan jaring makanan di laut. Oleh karena itu, komunitas nelayan dan peneliti menyeimbangkan kebutuhan untuk melindungi ekosistem dengan keuntungan penemuan sumber makanan baru untuk mengatasi masalah kelaparan dunia sebagaimana dilansir Treehugger.
