Fakta Penyebab dan Dampak Rupiah Melemah

Fakta Nyata – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menembus level psikologis baru Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat 15 Mei 2026. Pelemahan Rupiah Rp17.600 per dolar AS ini terendah sepanjang sejarah dan akan menimbulkan efek domino.

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak akan tinggal diam. Dirinya akan membantu menstabilkan nilai tukar Rupiah tetapi membutuhkan waktu. Bahkan, dirinya mengklaim, fondasi ekonomi Indonesia saat ini lebih baik dan tidak sejelek seperti krisis 1998.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di posisi Rp 17.668 per dollar Amerika Serikat (AS), melemah 71 poin atau 0,40 persen dibanding perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kurs JISDOR Bank Indonesia juga menunjukkan tekanan serupa. Rupiah berada di level Rp 17.666 per dollar AS, turun dibanding posisi sebelumnya Rp 17.496 per dollar AS.

Penyebab Rupiah Melemah di 2026

Pelemahan nilai tukar rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang ini, terutama dari kondisi ekonomi global dan kebijakan negara lain. Berikut beberapa penyebab rupiah melemah di 2026 yang perlu kamu ketahui:

Kondisi Ekonomi Amerika Serikat yang Kuat

Salah satu alasan dolar Amerika Serikat menguat adalah karena kondisi ekonomi negara tersebut masih cukup baik.

Data pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat pada kuartal II 2025 bahkan menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Hal ini membuat banyak investor semakin tertarik menyimpan dana dalam dolar.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury juga masih menarik bagi investor. Walaupun bank sentral Amerika Serikat sudah menurunkan suku bunga, pasar tetap menunggu langkah selanjutnya.

Ketegangan Global Meningkatkan Permintaan Dolar

Ketegangan politik di berbagai negara juga ikut memengaruhi nilai dolar Amerika Serikat. Ketika terjadi konflik atau situasi di mana dunia terasa tidak pasti, pasar keuangan biasanya ikut terdampak. Salah satu contohnya terjadi di Eropa. Saat itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terus membeli minyak dari Rusia.

Pernyataan ini membuat pasar menjadi khawatir karena bisa saja muncul sanksi baru yang memengaruhi perdagangan energi. Walaupun belum ada keputusan resmi, situasi seperti ini tetap menimbulkan ketidakpastian.

Akibatnya, banyak investor memilih memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman, salah satunya adalah dolar Amerika Serikat. Apabila hal tersebut terjadi, permintaan dolar pun meningkat sehingga nilainya menjadi lebih kuat.

Kebijakan Suku Bunga The Fed

The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat yang bertugas mengatur kebijakan keuangan, termasuk menentukan suku bunga. Keputusan dari lembaga ini sering memengaruhi kondisi ekonomi global karena dolar digunakan dalam banyak transaksi di berbagai negara.

Nah, pada 18 September 2025, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin sehingga berada di kisaran 4,00 hingga 4,25 persen. Meski begitu, Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti suku bunga akan terus dipangkas dalam waktu dekat.

The Fed masih ingin melihat perkembangan ekonomi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan berikutnya. Di dalam The Fed sendiri juga ada perbedaan pendapat. Ada yang setuju suku bunga diturunkan agar kondisi lapangan kerja tetap stabil. Namun, ada juga yang mengingatkan bahwa inflasi masih cukup tinggi sehingga penurunan suku bunga tidak bisa dilakukan terlalu cepat.

Dampak Rupiah Melemah: Harga BBM Bisa Naik hingga PHK

Pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.

Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per USD.

Kondisi tersebut tidak hanya disebabkan oleh selisih kurs semata. Rantai pasok global yang terganggu sejak meletusnya perang pada Februari lalu telah mengerek biaya logistik, asuransi, hingga harga komoditas penolong seperti plastik dan energi, yang pada akhirnya membebani operasional industri.

Tekanan berat yang menimpa sektor ini tercermin pada laju Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas pabrik tersebut terus merosot dan pada akhirnya berbalik mengalami kontraksi pada April lalu.

Situasi pelik ini memaksa pabrikan memutar otak karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasaran. Daya beli masyarakat yang melemah membuat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.

“Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat ini. Artinya, dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar sangat krusial untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Sabtu (16/5/2026).

Jika dibiarkan tanpa intervensi perlindungan, tren pelemahan ini berisiko memicu gelombang penutupan pabrik. Pasalnya, kondisi setiap subsektor dalam industri manufaktur berbeda-beda dan tidak bisa disamaratakan.