Fakta Seputar Tesso Nilo, Disebut ’Benteng Terakhir’

Fakta Nyata – Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sedang mengalami konflik agraria berupa permasalahan alih fungsi lahan, pembakaran hutan, dan perambahan. Saat ini Tesso Nilo menghadapi ancaman serius. Hal itu akibat penebangan liar dan pembangunan perkebunan sawit ilegal, yang telah mengubah sebagian besar kawasan ini.

Padahal, TNTN menjadi rumah bagi satwa langka, dan menyimpan keanekaragaman hayati. Persoalan lahan ini juga sudah ditegaskan lewat Kementerian Kehutanan, yang mengukuhkan luas tanah TNTN seluas 81.793 hektar (berdasarkan SK 6588/Menhut-VII/KUH/2014) sejak 28 Oktober 2014.

Pemerintah dan berbagai pihak terus berupaya mengatasi masalah ini melalui operasi penertiban, rehabilitasi ekologis, kemitraan konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Bagi kalian yang belum mengenal Taman Nasional Tesso Nilo, simak sederet fakta tentang kawasan yang disebut rumah terakhir gajah sumatera.

‘Benteng Terakhir’

Situs WWF Indonesia menyebut Tesso Nilo adalah salah satu blok hutan dataran rendah yang masih tersisa di Pulau Sumatra. Oleh karenanya menjadi benteng terakhir hutan dataran rendah di Sumatra. Secara administratif, kawasan ini berada di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hulu. Wilayah hutan ini resmi dikukuhkan menjadi taman nasional pada tahun 2004 seluas 38.576 hektare, dan diperluas menjadi sekitar 83.068 hektare pada 2009.

Sayangnya, kini tersisa 12.561 hektar saja lahan yang masih berfungsi secara alami sebagai hutan. Kondisi ini tak lain adalah dampak dari perampasan wilayah, penggerusan, dan perusakan oleh manusia yang membangun pemukiman dan kebun sawit ilegal di Kawasan TNTN. Hal ini tentu saja merusak ekosistem spesies flora dan fauna di kawasan hutan lindung tersebut.

Ditumbuhi Aneka Ragam Flora

Ekosistem di Taman nasional Tesso Nilo juga terikat dengan ragam flora yang tumbuh di sana. Berbagai jenis pohon hutan yang langka menjadi pilar di tanah Tesso nilo. Tumbuhan yang ditemui di TNTN biasanya berjenis endemik, misalnya kempas, kulim, kayu batu, jelutung, ramin, meranti-merantian, tembesu, keranji, keruing, jenis sindora, hingga durian. Tak jarang ditemukan tumbuhan obat di hutan ini.

Setidaknya tercatat sekitar 360 jenis flora yang ada di TNTN, seperti temuan LIPI dan WWF Indonesia. Bahkan, Center Biodiversity Management mengakui Tesso Nilo adalah hutan dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Hal tersebut diakui setelah ditemukan 218 jenis tumbuhan vaskular dalam 200 m2 petak.

Dihuni Banyak Satwa

Meskipun gajah sumatera jadi penduduk yang paling terkenal di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, tetapi kawasan ini juga merupakan rumah bagi sejumlah satwa lain. TNTN adalah rumah aman yang seharusnya menaungi banyak satwa langka. Mulai dari harimau sumatera yang semakin langka, rusa maupun kijang yang perlu kawasan untuk berkembang biak, hingga sekelompok tapir yang hidupnya sensitif akan perubahan habitat.

Selain itu, ratusan jenis burung yang ada di sana berharap bisa terbang dengan bebas dan indah dari ranting ke ranting yang justru banyak ditebang, belum lagi aneka ragam serangga dan reptil kecil yang ikut meramaikan taman nasional. Berdasarkan data LIPI dan WWF Indonesia, tercatat 216 jenis fauna yang ada di TNTN, termasuk primata, reptil, amfibi, ikan, mamalia, hingga burung. Sayangnya, kian hari populasi mereka mendekati ujung tanduk, mengingat Tesso Nilo yang tak lagi alami.

Makin Rusak

Kawasan Tesso Nilo menghadapi ancaman serius, terutama dari aktivitas ilegal yang mengakibatkan kerusakan ekosistem. Sebagian besar lahan di TNTN dirambah secara ilegal untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Pada November 2025, dilaporkan bahwa hutan alami hanya tersisa sekitar 15% dari luas total taman nasional.

Perambahan hutan juga menyusutkan populasi gajah secara signifika. Populasi gajah liar menurun dari 200 ekor pada 2004 menjadi 150 ekor pada 2025. Selain itu, upaya penertiban lahan memicu konflik antara petugas Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) dengan warga yang menduduki lahan secara ilegal. Yang terbaru, terjadi perusakan fasilitas pos pengamanan TNTN oleh oknum-oknum yang tidak dikenal.